7 Poin Revolusi Pendidikan Indonesia
Di DALAM Pekan Pendidikan Nasional Indonesia, mari kita sebagai orang yang mengaku cinta kepada Indonesia bersama-sama untuk memikirkan pembangunan Indonesia. Pendidikan berarti peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Kualitas SDM ini jauh lebih penting dari sumber daya alam yang kita miliki. Kalau kita lihat Jepang dan Korea, sumber daya alam mereka tidak banyak. Tetapi dengan kualitas SDM yang mereka miliki, bisa membangun peradaban yang maju. Jadi, jangan sampai terlalu bangga dengan sumber daya alam yang kita miliki jika kualitas sumber daya manusia kita masih buruk.
Dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, ada tujuh poin besar yang harus dijadikan fokus:
Pertama, jangan terjebak bahwa pendidikan itu sama dengan sekolah. Pendidikan jauh berbeda dengan sekolah. Sekolah merupakan hal baru dalam dunia pendidikan. Sekolah lahir beriringan dengan era revolusi industri dengan tujuan untuk mempersiapkan sumber daya manusia masuk ke industri. Bahkan kampus ada lebih dulu daripada sekolah. Belajar tidak harus di sekolah.
Kedua, pendidikan merupakan hal yang kompleks. Tidak serta merta kita anggap bahwa jika sekolah bisa melahirkan orang yang terdidik. Sekarang banyak anggota DPR yang sarjana sampai doktor. Apa kita yakin bahwa para anggota DPR sekarang lebih baik dari pada anggota DPR yang dulu-dulu yang bahkan tidak mempunyai gelar sama sekali. Pendidikan dalam arti yang sebenarnya bisa didapat dari pengalaman, lingkungan, suri tauladan, membaca, praktek, mendengarkan ceramah, diskusi, dsb. Pendidikan terbaik bahkan bisa dari rumah.
Ketiga, jangan jadikan UN sebagai standar kelulusan. UN hanya mengukur sedikit kemampuan siswa, apalagi kalau sampai mengukur kadar terdidiknya seorang siswa. Hal ini membuat UN sangat tidak relevan untuk dijadikan standar kelulusan. Biarlah para guru yang menilai, apakah siswa tersebut layak lulus atau tidak. Bukan hanya rokok yang bisa dipasang slogan mengenai bahayanya. Kita harus mempertimbangkan pemasangan slogan bahaya pada UN, "UN dapat menyebabkan depresi, frustasi, perilaku curang, ketidakadilan dan merendahkan martabat guru".
Keempat, fokus pada kualitas guru. Faktor terbesar terhadap sukses tidaknya pendidikan adalah guru. Karena dari guru, siswa bisa mendapatkan ilmu pengetahuan, pendidikan akhlaq dan suri tauladan. Percuma bila membuat kurikulum sebagus apapun jika guru tidak bisa menyampaikannya dengan baik kepada siswa. Kita perlu mempersiapkan guru-guru yang berkualitas.
Sekarang, kecenderungan siswa yang pintar lebih memilih ITS misalkan dari pada masuk ke IKIP. Sehingga input IKIP kekurangan input yang bagus. Dulu, rekrutmen guru adalah siswa terpintar. Adapun, untuk guru-guru yang sudah mengajar harus diberikan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas mereka. Jangan sampai malah menyibukkan guru dengan birokrasi yang rumit.
Kelima, pentingnya pendidikan karakter. Sekolah sekarang banyak menjadi bibit munculnya karakter-karakter jelek. Misalkan, karena takut mendapat nilai jelek atau tidak mendapat ranking bagus, siswa akhirnya mencontek. Dalam istilah jawa, jujur iku mujur. Tetapi, siswa yang mengerjakan dengan jujur dan mendapat nilai jelek malah diejek temannya.
Siswa pintar disuruh untuk memberikan contekan saat ujian oleh gurunya. Bahkan pemerintah pun sudah tidak percaya lagi pada guru. Lihat, polisi sampai mengawasi guru dalam pelaksanaan ujian. Masih banyak karakter-karakter baik lain yang dibantai di sekolah selain kejujuran. Kasus lain membuktikan bahwa sekolah sekarang bukan tempat pendidikan karakter. Ada siswa yang dikeluarkan karena mencuri helm. Siswi hamil tidak boleh ikut ujian. Hal tersebut menyalahi makna pendidikan. Pendidikan adalah bagaimana siswa yang tidak baik itu menjadi baik. Semua orang berhak mendapat pendidikan, semua orang berhak untuk menjadi lebih baik.
Keenam, membebaskan belenggu-belenggu pendidikan dengan menggunakan teknologi informasi. Dengan email, kita bisa menanggulangi distribusi soal UN yang terlambat dengan mudah. Dengan internet, koordinasi pemerintah pusat dengan para guru di daerah akan lebih mudah, sumber-sumber ilmu pengetahuan mudah diakses. Penggunaan kertas bisa dikurangi dengan adanya buku-buku digital.
Ketujuh, stop politisasi dan komersialisasi pendidikan. Berbagai kalangan harus satu visi dalam pengembangan pendidikan di Indonesia. Pendidikan tidak boleh dijadikan mainan politik bagi para penjabat. Namun, permasalahan pendidikan ini harus diserahkan pada ahli dibidangnya. Dengan adanya kurikulum baru 2013 tentunya akan banyak sosialisasi, pelatihan dan buku-buku baru yang diterbitkan. Hal tersebut sangat rawan sekali dengan tindak KKN. Selain itu, setiap orang di Indonesia harus bisa mengeyam dunia pendidikan baik yang punya biaya maupun tidak. Sekolah-sekolah yang menolak calon siswa tidak mampu harus diberi sanksi tegas oleh pemerintah.
Perlu kita sadari bahwa kualitas pendidikan di Indonesia saat ini masih buruk. Setelah kita sadar, mari kita satukan tujuan untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik. Revolusi pendidikan di Indonesia harus dilakukan demi kejayaan Indonesia di masa mendatang.
Ahmad Iklil Muna
Jurusan Teknik Kelautan - FTK
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

0 komentar:
Posting Komentar