Pendidikan Seks Masuk Kurikulum Sekolah
JAKARTA - Kurikulum pendidikan di Indonesia belum bisa memasukkan pendidikan seks sebagai mata pelajaran di sekolah. Karena itu, orangtua merupakan ujung tombak pendidikan seks bagi para remaja usia sekolah.
"Kalau di negara barat, itu namanya seksologi. Kalau di negara barat, itu wajar. Tapi kalau di Indonesia sendiri sih harus hati-hati ya menurut saya. Jadi kalau mau mengajarkan seks di Indonesia atau memasukkan satu mata pelajaran ke kurikulum pelajaran, itu sangat sulit. Mungkin ini perlu tapi lebih ke bimbingan," ungkap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan kepada okezone, Selasa (11/5/2010).
Cara orang tua dalam memberi pendidikan seks kepada anak-anak, lanjut Amidhan, adalah dengan lebih mendekatkan diri, dan mengisi waktu luang bersama.
"Keinginan-keinginan itu harus dibantu, karena situs porno itu sangat luar biasa. Dengan itu kita bisa sedikit-sedikit memberitahukan apa bahaya dan kegunaan seks itu sendiri, khususnya untuk para gadis. Sebagai orangtua harus ekstra ketat untuk memberitahukan mereka karena mereka butuh bimbingan untuk mengetahui hal-hal tersebut," terang Amidhan.
Dalam survei terakhir, Komisi Perlindungan Anak (KPA) mengungkapkan data bahwa 97 persen remaja di Indonesia pernah menonton atau mengakses pornografi, 93 persen pernah berciuman, 62,7 persen pernah berhubungan badan, serta 21 persen remaja telah melakukan aborsi.
Hasil survei tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring dalam seminar bertajuk, Sinergi Pemerintah dan Industri Perfilman Nasional dalam Membentuk Masyarakat Madani, yang diselenggarakan FISIP UNPAD, Bandung, pekan lalu.
0 komentar:
Posting Komentar